• Home
  • Nasional
  • BIN: 3 Hal Gagal Paham Ini Jadi Biang Keladi Terorisme!

BIN: 3 Hal Gagal Paham Ini Jadi Biang Keladi Terorisme!

Kamis, 24 Mei 2018 23:37
BAGIKAN:
net

JAKARTA - Badan Intelijen Negara (BIN) menyebut ada tiga penyebab terorisme tumbuh subur di Indonesia. Ketiga hal itu berpangkal dari pemahaman agama yang keliru.

"Perlu dicatat bahwa kesemuanya ini hanya tiga permasalahan yang menjadi biang keladi dari terorisme di Indonesia. Yang pertama, pemahaman jihad, pemahaman takfir, yang ketiga pemaknaan thoghut," kata Kepala Sub Direktorat Kontraterorisme Wilayah Barat BIN, Kombes Deden, dalam diskusi di Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (24/5/2018).

Menurut Deden persoalan pertama adalah sebagian orang keliru dalam memaknai arti jihad. Bagi kelompok teroris, makna jihad itu dipersempit hanya menjadi jihad qital (perang).

"Pemakanaan jihad, mereka persempit. Jadi jihad itu kaya membuang duri, itu bukan jihad. Pengertian jihad menurut kelompok yang tergabung dalam radikalisme dan terorisne ini adalah jihad qital," papar Deden.

Kedua, kelompok teroris keliru dalam memahami arti takfir. Menurut Deden, mereka meyakini bahwa setiap orang yang berbeda pahamnya dapat dibunuh.

Baca juga: Empat Jenazah Terduga Teroris Mapolda Riau Dimakamkan

"Takfir tadi disampaikan, takfir itu walaupun sesama Islam. Buat kelompok dia, berseberangan pahamnya dengan dia, takfir, halal darahnya dan sebagainya. Jadi kunci permasalahannya tiga saja," tuturnya.

Terakhir, teroris juga memperluas makna thoghut. Beberapa pejabat, menurut Deden, bahkan dianggap thogut oleh kelompok tersebut.

"Makna thoghut juga diperluas, pembuat UU dan sebagainya. Kesirikan-kesirikan dan sebagainya," ujarnya.

Deden lantas memaparkan soal sumber berkembangnya aksi terorisme. Dia berpendapat terorisme muncul dari produk dalam negeri dan luar negeri.

Baca juga: Pasca Aksi Teror, Polda Riau Perketat Pengamanan

"Produk lokal kita ketahui bersumber dari paham negara Islam indonesia Kartosuwiryo. Kemudian paham luarnya daei salafi, jihadi. Yang awalnya dari wahabi. Salafi kemudian jadi wahabi. Kemudian ada salafi, jihadi dalam perkembangannya," ucapnya.

Deden juga sempat menyinggung beberapa organisasi di Indonesia yang terindikasi disusupi pemahaman radikalisme. Meski tak secara gamblang, Deden menyebut organisasi itu berada di dekat masyarakat Indonesia.

"Organisasi yang saat ini, apa namanya, selalu berdekatan dengan kita semua, bersentuhan dengan kita semua, walaupun memang tadi ada yang paling mengancam negeri kita adalah yang berpaham atau yang mempunyai pemahaman takfiri," tuturnya.[dtc]

BAGIKAN:

BACA JUGA

  • Tokoh Masyarakat Mandau Berharap Bulan Ramadan Jadikan Penyejuk Ketegangan Pasca Pemilu 2019

    BENGKALIS - Tokoh Masyarakat Mandau, Kabupaten Bengkalis Erwin berharap, bulan suci Ramadhan tahun ini dapat menjadi momentum untuk mendinginkan ketegangan p

  • Pleno Kecamatan Mandau, PKS Kuasai 4 Kursi

    BENGKALIS - Sempat dua kali terjadi penundaan, akhirnya rapat pleno lanjutan Rekapitulasi Hasil Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilu Serentak Tahun 2019

  • KPK Tetapkan Bupati Bengkalis Tersangka, Begini Reaksi Para Kolega Amril Mukminin

    BENGKALIS - Setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Bengkalis, Amril Mukminin tersangka kasus suap proyek jalan Duri-Sei Pakning, Kamis

  • Suaminya Ditetpakan Tersangka Oleh KPK, Istri Amril Mukminin Menangis di Safari Ramadan

    BENGKALIS - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menentapkan Bupati Bengkalis Amril Mukminin sebagai tersangka, Kamis (16/4) petang. Penetapan tersangka dilaku

  • KOMENTAR