• Home
  • Nasional
  • Korban Terakhir Kapal GT-6 Ditemukan Sudah Tak Bernyawa

Korban Terakhir Kapal GT-6 Ditemukan Sudah Tak Bernyawa

Sabtu, 16 Februari 2019 21:24
BAGIKAN:
RIAUONLINE.CO.ID

PEKANBARU - Tim pencarian dan penyelamatan (SAR) gabungan berhasil menemukan korban terakhir kapal tenggelam di perairan Selat Malaka yang terjadi pada 11 Februari 2019 lalu.

Korban terakhir atas nama Berhak (50) ditemukan mengapung sekitar 10 nautical miles (NM) dari lokasi tenggelamnya kapal GT 6 pada Rabu 13 Februari 2019 sore sekitar pukul 16.15 WIB.

"Korban ditemukan dalam keadaan mengapung dan meninggal dunia," kata Kepala Subseksi Operasi SAR dan Kesiap-siagaan Basarnas Pekanbaru, Jacky Chan.

Nerhak adalah salah satu penumpang dalam insiden kapal GT 6 yang mengangkut kayu teki asal Kabupaten Meranti tujuan Malaysia beberapa waktu lalu.

Saat itu, kapal berisi tiga awak kapal tersebut tenggelam diduga akibat dihantam gelombang. Korban sendiri disebut tidak dapat berenang dan dinyatakan hilang selama dua hari sebelum ditemukan tidak bernyawa hari ini.

Usai ditemukan, korban langsung dibawa ke rumah duka yang beralamat di Desa Alai, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Meranti.

"Korban di evakuasi TIM SAR Gabungan dan di bawa ke Rumah Duka di Desa Alai," lanjutnya.

Saat kejadian, Kapal GT 6 tenggelam di titik koordinat 01 12 21.04 N - 102 36 9.76 E. Nakhoda kapal yang bernama Bacok (43) dan Kandar (40) selamat.

Sepanjang awal 2019, dua insiden kapal tenggelam di perairan pesisir Provinsi Riau yang berbatasan dengan Selat Malaka. Pertama adalah tenggelamnya apal Kargo DBS 02 dengan muatan 700 ton semen PT Semen di perairan Kabupaten Bengkalis pada 26 Januari lalu.

Dalam insiden itu, sembilan anak buah kapal selamat. Sementara seorang lainnya bernama Dasril dinyatakan hilang. Hingga proses pencarian dihentikan, Dasril masih belum kunjung ditemukan.

BMKG stasiun Pekanbaru menyatakan bahwa dua insiden tenggelamnya kapal di pesisir Riau tak terlepas dari kondisi gelombang tinggi yang terjadi di wilayah itu beberapa waktu lalu.

"Saat itu memang tinggi gelombang di pesisir Riau sempat mencapai 1 hingga 1,75 meter. Sehingga berbahaya untuk pelayaran. Namun sekarang pantauan kita kondisi gelombang di pesisir Riau sudah cenderung normal dengan tinggi sekitar 0,5 meter," kata analis BMKG Pekanbaru, Yasir.

Dikutip: Riauonline.co.id

BAGIKAN:

BACA JUGA

  • Pasca Kebakaran Lahan dan Hutan, BLH Bengkalis Sebut Kualitas Asap Masih Aman

    BENGKALIS - Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bengkalis menyebut kualitas udara wilayah Kabupaten Bengkalis masih aman dari bahaya ISPA.

  • Pemerintah Pusat Programkan Pulau Rupat, Bengkalis Kawasan Strategis Pariwisata Nasional

    BENGKALIS - Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bengkalis, Kaderismanto menyebut pulau Rupat Kabupaten Bengkalis masuk kedalam program industrialisasi pariwisata berb

  • DPRD Paripurnakan Hari Jadi Bengkalis ke 507

    BENGKALIS - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bengkalis menggelar Sidang Paripurna Istimewa dalam rangka Hari Jadi Bengkalis ke 507. Paripurna

  • Lahan Warga Bengkalis Kembali Terbakar

    BENGKALIS - Lahan gambut milik masyarakat di Dusun 3, bersebelahan dengan Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis terbakar, Sabtu 20 Juli 2019.

  • KOMENTAR