• Home
  • Nasional
  • Menteri Susi: Kalau Tak Mau Makan Ikan, Saya Tenggelamkan

Menteri Susi: Kalau Tak Mau Makan Ikan, Saya Tenggelamkan

Kamis, 04 Oktober 2018 14:15
BAGIKAN:
MENTERI Keluatan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, disambut meriah oleh warga saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al Ihsan Boarding School (IBS), Rabu, 3 Oktober 2018, di Kubang Jaya, Kampar, Riau.

PEKANBARU - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti makan lima ton berbagai olahan masakan ikan dengan ribuan santri dan wali santri di Pondok Pesantren Al-Ihsan, Desa Kubang Raya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

"Hari ini kita makan ikan bersama ya. Dan selanjutnya, terus kita makan ikan," kata Susi yang disambut riuh tepuk tangan jemaah di Kampar, Rabu, 3 Oktober 2018.

Susi menuturkan bahwa pemerintah telah berupaya keras mengembalikan produksi ikan nasional. Ratusan kapal ilegal asing yang selama ini menangkap ikan di perairan Indonesia ditangkap. "Tenggelamkan," ujar Susi.

Ia mengatakan bahwa pemerintah memiliki niat untuk meningkatkan konsumsi ikan masyarakat Indonesia, yang saat ini sebesar 35 kilogram per kapita menjadi 45 kilogram per kapita.

Meskipun, lanjutnya, target tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih jauh di bawah Jepang yang saat ini mencapai 80 kilogram per kapita.

Lebih jauh, Susi yang dikenal sebagai menteri nyentrik dan bersahaja serta ceplas-ceplos dalam berbicara itu mengatakan mengkonsumsi ikan jauh lebih sehat, dibandingan daging merah. Selain itu, makan ikan juga terbukti jauh lebih hemat.

"Ikan ada omega yang meningkatkan kualitas otak kita. Kalau ada anak-anak di (usia) bawah 1.000 hari, makan ikan (sejak bayi), maka akan menjadi juara-juara di sekolah," jelasnya.

Susi menilai, kandungan ikan yang memberikan kecerdasan pada anak nantinya bakal meningkatkan daya saing era globalisasi di masa mendatang. Dengan kecerdasan dan kepintarannya membuat anak Indonesia bakal mampu bersaing di dunia kerja masa mendatang.

"Hari ini terjadi surplus demografi, jangan sampai pertambahan penduduk dengan kualitas rendah, persaingan semakin ketat, bekerja sebagai supir pun nanti bakal didatangkan dari luar negeri," katanya.

Masyarakat saat ini tidak perlu khawatir dengan ketersediaan ikan. Saat ini, kata dia, Indonesia telah menjadi negara ekspor ikan terbesar di Indoensia. Pendapatan domestik bruto ikan mencapai 6.7 persen, jauh lebih tinggi dari Pdb nasional 5.7 persen.

"Ini bangsa besar, kalau mau bekerja yang bagus, Ibu ibu harus kasih anak makan ikan sejak kecil. Ikan ini lebih murah dari ayam dan daging merah. Kalau tak mau makan ikan, saya tenggelamkan," ujarnya sambil berseloroh.[roci]

BAGIKAN:

BACA JUGA

  • APK Membandel, Siap-siap Disisir Bawaslu

    PEKANBARU - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Riau saat ini sedang menginventarisir jumlah Alat Peraga Kampanye (APK) yang diduga melanggar aturan di provinsi Riau.

  • Ajang Promosi Para UKM, Pameran dan Bazar MTQ ke-XXXVII di Buka

    PEKANBARU - Salah satu bentuk nyata kerja keras Pemerintah Provinsi Riau dalam memajukan ekonomi antara lain dengan pameran dan bazar MTQ ke-XXXVII di Pekanb

  • Pembukaan Stand Bazar MTQ ke-XXXVII Tingkat Provinsi Riau, Bengkalis Target Juara 1

    PEKANBARU - Sebelum pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXXVII tingkat Provinsi Riau tahun 2018, dibuka secara resmi, Gubernur Riau diwakili

  • Polisi Tetapkan 2 Tersangka Terkait Temuan Mayat di Bengkalis

    BENGKALIS - Hamit alias Boboi (31) dan Jamal (38), keduaya warga Desa Cingam, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, ditetapkan sebagai tersangka atas kelalai

  • KOMENTAR