PWI Siak Kecewa, Pemerintah Lebih Kecewa

Minggu, 02 Maret 2014 16:40
BAGIKAN:
Syamsuar
PWI Siak Kecewa, Pemerintah Lebih Kecewa  SIAK, POG - Bupati Siak, H. Syamsuar,MSi merasa kesal dengan adanya pemberitaan media yang menyampaikan kekesalan Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Siak atas pembatalan sepihak kegiatan Seminar Jurnalistik dan Sosialisasi Pemilu Cerdas yang seharusnya digelar 2 pekan lalu (20/2).

Di lain sisi, menurut bupati, Dinas Pendidikan meliburkan Siswa karena kondisi kabut asap, sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan seminar tersebut, selain itu, juga terdapat unsur sosialisasi ditudingkan pada acara itu.

Demikian disampaikan Bupati Siak, Drs. H Syamsuar, M.Si pada acara Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Foorkompinda) yang berlangsung di ruang Raja Indra Pahlawan, kantor Bupati Siak awal pekan lalu.

Dijelaskannya, masalah itu dibahas dalam forum Forkompinda karena PWI mengungkapkan kekesalannya melalui media Cetak dan elektronik, hal itu dinilai telah menimbulkan opini di masyarakat. "Pemberitaan itu menimbulkan opini di masyarakat yang tidak benar. Dalam pemberitaan PWI merasa kesal, seharusnya Pemerintah lebih kesal," ujarnya.

Bupati menilai, dalam kondisi kabut asap yang dinilai tebal, tidak efektif untuk dilakukannya kegiatan seminar tersebut. Namun demikian, dalam penyampaiannya bupati hanya membahas tentang sosialisasi.

"Tidak mungkin kita sosialisasi, sementara kita sebok dengan asap. Macam mana kita mau bicara menyampaikan sosialisasi pendidikan politik anak-anak supaya ikut nanti memilih, suasana sekarang nafaskita kena kabut asap," tegas Bupati. Lebih jauh, bupati menuding kegiatan seminar yang ditaja PWI tersebut berbau sosialisasi salah satu caleg.

"Itu belum lagi kalau kita cari, ada oknum di situ sebagai caleg, padahal dalam aturan kode etik tidak boleh. Pengurus PWI Pusat, Cabang, Perwakilan tidak boleh merangkap jabatan sebagai pengurus Partai, ini mau sosialisasipulak disitu, kecawa pulak dia di koran, dan menyalahkan kepala dinas," tegasnya lagi.

Tudingan sosialisasi itu dipertegas bupati dengan penjelasan daerah pemilihan. "Sosialisasi di dapil satu pula, kebetulan caleg di dapil satu pula, dapil lain kenapa tidak ada sosialisasi," kata Bupati.

"Kalau dia bilang kecewa, pemerintah juga lebih kecewa, karena dalam undang-undang pres jelas, bahwa pengurus PWI tidak binarkan merangkap jabatan dalam pengurus Partai dan pengurus organisasi yang berafiliasi dengan politik, jangankan pengurus partai, berafiliasi saja tidak boleh, apalagi ini caleg," tegasnya lagi.

Bupati menegaskan, tidak dibolehkan mengorbankan siswa dalam melakukan sosialisasi, karena ada undang-undang yang mengatur. "Kalau saya mau berbuat, apa yang tidak bisa, saya ketua partai Golkar, saya buat aja suka-suka hati, semua siswa sekolah saya kumpulkan, saya bersosialisasi, saya tunjuk ini yang harus dipilih. Tapi saya tidak mau menggunakan kekuasaan saya," kata Bupati.

Diharapkan pada semua pihak, terutama penyandang profesi jurnalis, untuk bisa mengkoordinasikan hal yang akan dilaksanakan, jangan sampai mengedepankan kepentingan pribadi dalam melakukan tindakan atau pemberitaan.

Ketua PWI Siak Ali Masruri didampingi Sekretaris, Yanti Sugiarti membantah dugaan atau tudingan adanya kepentingan politik dalam kegiatan tersebut. Dijelaskannya, bahwa wajar muncul kekecewaan dari tubuh organisasi PWI, pasalnya informasi liburnya siswa mendadak, dan baru diketahui pada Rabu sekitar pukul 19.00, (19/2), padahal acara seminar akan dilaksanakan pada Kamis pagi (20/2).

Sementara, panitia telah mempersiapkan dengan matang, baik itu dari segi logistik, konsumsi bahkan pembicara dari Pekanbaru telah dihadirkan malam tersebut. "Kalau kita perhatikan, hari Senin s/d Rabu siswa masuk, padahal kondisi kabut sama. Mendadak Rabu petang Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan membikin kebijakan pelajar SMA kelas X dan XI diliburkan, dengan alasan kabut asap.

Sementara untuk kelas XII masuk melakukan trobosan mempersiapkan menghadapi Ujian Nasional. Kami menilai kebijakan mendadak ini adalah upaya menggagalkan kegiatan PWI, apalagi saat kelapa dinas dihubungi, Kadri Yafiz menegaskan tidak ada pertimbangan sama sekali. Karena anak-anak diliburkan karena kondisi asap dan kelas XII tidak dibenarkan mengikuti kegiatan seminar dengan alasan kegiatan belajar untuk mempersiapkan UN," katanya.

Lebih jauh, Ali mengatakan dengan digagalkannya kegiatan tersebut maka sudah membuat kecewa rekan-rekan panitia yang dibentuk PWI untuk menggelar salah satu rangkaian kegiatan Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tersebut.

Upaya yang dilakukan panitia dalam mempersiapkan seminar di hari Kamis 2 pekan lalu akhirnya sia-sia, padahal panitia telah mengorbankan waktu dan tenaganya ditengah kesibukannya mencari data dan menulis berita. "Jelas upaya panitia jadi sia-sia, tenaga terbuang sia-sia, dana yang telah digunakan juga akhirnya sia-sia, karena ada perlengkapan yang sekali pakai, begitu juga dengan konsumsi yang sudah dipesan dan dibayar," tegasnya.

Terkait dugaan sosialisasi, Ali menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan Peringatan HPN 2014 murni dikonsep oleh panitia, tidak ada campur tangan lebih jauh atau bahkan intervensi dalam pengonsepan kegiatan.

"Kalau terkait adanya caleg, khususnya saya, tidak ada ketentuan saya untuk caleg, tapi dilarang menjadi pengurus parpol. Dan kegiatan dilakukan di seluruh wilayah Kabupaten Siak, Perawang, Bungaraya, Mempura dan Lubuk Dalam. Kegiatan dibagi dalam 4 rayon," ujar Ali, Minggu (2/3). Adanya materi sosialisasi pemilu cerdas dalam rangkaian seminar jurnalistik tersebut dikonsep panitia adalah untuk membantu pemerintah dalam mensukseskan pesta demokrasi.

"Kami luruskan, materis sosialisasi pemilu cerdas dimasukan dalam seminar karena ini tahun politik, wartawan memiliki tugas untuk mensukseskan dan mengawal jalannya pesta demokrasi. Dalam hal ini kami menggandeng Panwaslu dan KPU sebagai narasumber," ujar Ali.

Jika pemerintah bisa berfikir lebih jauh, maka tidak akan ada muncul dugaan negatif dalam kegiatan tersebut. Dengan digandengnya Panwaslu dan KPU, maka tidak akan ada yang berani memanfaatkan kegiatan tersebut untuk sosialisasi politik.

Tidak hanya itu, paparkan Ali, bahwa wartawan yang bergabung di PWI dan terlibat dalam acara peringatan HPN bukan hanyq segelintir orang, bahkan bisa dikatakan semuanya mempunyai pandangan politik yang bebeda, maka mustahillah membuat acara hanya untuk sosialisasi politik apalagi kalau ditudingkan pada satu oknum.

Senada disampaikan oleh Ketua Panitia HPN 2014, PWI Kabupaten Siak, Abdus Salam didampingi kepala Seksi Acara, Wirman Sandi dan kepala Seksi Pendanaan David, diterangkannya bahwa Pengurus PWI membentuk kepanitiaan hanya dengan menjelaskan tujuan peringatan HPN, dan mengacu pada isu dan gambaran peringatan HPN yang dilakukan PWI Pusat. Setelah kepanitiaan terbentuk, semua konsep kegiatan murni diserahkan pada panitia, sedangkan ketua PWI dan pengurus lainnya hanya sebagai tempat konsultasi. "Semua konsep acara panitia yang membuat, termasuk juga penggalagan dana," jelasnya.

Dugaan adanya kepentingan salah satu oknum caleg dalam kegiatan HPN merupakan pandangan yang salah kaprah, maka hal itu perlu diluruskan. "Kami juga paham dengan sikap Independen dan nertalitas, adalah keliru jika pemerintah menilai kegiatan kami ditunggangi kepentingan politik. Kepentingan kami hanya untuk merayakan HPN dan mensukseskan pembangunan, dengan mensukseskan pesta demokrasi," pungkasnya. (Pog/Sht)
BAGIKAN:
KOMENTAR