• Home
  • Berita
  • Pemilik Swalayan Top 99 Selatpanjang dan Keluarga Karyawan Dugaan Korban Pemerasan Sepakat Damai

Pemilik Swalayan Top 99 Selatpanjang dan Keluarga Karyawan Dugaan Korban Pemerasan Sepakat Damai

Kamis, 19 April 2018 20:29
BAGIKAN:
SELATPANJANG - Setelah dilakukan mediasi, pemilik Swalayan Top 99 bernama Sujadi alias Ahwat sepakat berdamai dengan pihak keluarga mantan karyawannya bernama Leha (18 tahun) atas dugaan adanya unsur pemerasan yang dilakukan pemilik Swalayan Top 99 beberapa waktu lalu.

Perdamaian itu dengan syarat pemilik Swalayan Top 99 itu tidak melanjutkan tuntutan sebelumnya terhadap pihak keluarga Leha yang dituntut untuk membayar sebesar Rp24 juta, sementara surat tanah yang dijadikan sebagai jaminan itu juga akan dikembalikan pihak Swalayan kepada pemiliknya atau pihak keluarga Leha.

Dari Pantauan media, Kamis (19/4/2018) siang, mediasi itu dilakukan di Swalayan Top 99 Lantai II, Jalan Kartini, Selatpanjang, dengan menghadirkan pihak pemilik Swalayan, pihak keluarga Leha yang diwakili ibunya bernama Sri, pihak kepolisian serta puluhan wartawan.

Pemilik Swalayan Top 99 bernama Sujadi alias Ahwat didampingi istrinya mengucapkan permohonan maaf atas apa yang telah berlaku hingga persoalan tersebut menjadi perbincangan kalayak ramai di kota Selatpanjang.

"Akan kita selesaikan secara kekeluargaan agar persoalan ini tidak memanjang dan menimbulkan persepsi yang negatif diluarsana," ujarnya.

Diakui Ahwat, pihaknya tidak berniat untuk melakukan pemerasan terhadap pihak keluarga mantan karyawannya itu.

"Tidak ada niat kita untuk mempersulit orang lain apalagi sampai memeras," ucapnya.

Sementara ibunya Leha bernama Sri mengucapkan terimakasih kepada pemilik Swalayan karena tidak melanjutkan tuntutan 24 juta dan berjanji akan mengembalikan surat tanah yang sempat dijadikan jaminan itu.

"Kita mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak Ahwat yang mau mengembalikan surat tanah kami, dan terimakasih juga kepada bapak-bapak wartawan yang telah membantu mendampingi pihak keluarga kami dalam menghadapi permasalahan ini," ungkap Sri dengan wajah sedikit tersenyum sambil menyeka airmata dipipinya.

Dari kesepakatan bersama, surat tanah tersebut akan diserahkan langsung oleh pemilik Swalayan Top 99 kepada Hayun(53 th) yang merupakan ayah kandung Leha. Saat ini Hayun sedang berada di negeri jiran Malaysia, sedangkan perjanjian dan penyerahan awal surat tanah tersebut sebagai jaminan diserahkan oleh Hayun, maka penyerahan surat tanah tersebut akan dilakukan setelah Hayun pulang ke Selatpanjang.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, menurut Hayun, peristiwa itu bermula dari perbuatan anak perempuannya bernama Leha (18 tahun) yang ketahuan mencuri ketika bekerja di Swalayan Top 99 pada 23 Maret 2018. Perbuatan Leha bahkan terekam CCTV. Gadis miskin yang berstatus pelajar tersebut akhirnya tidak bisa mengelak. Dia hanya bisa pasrah dan menangis untuk mendapatkan ampunan.

Sementara Ahwat yang merasa dirugikan juga tidak tinggal diam. Dia sengaja tidak melaporkan Leha ke polisi, melainkan minta uang ganti rugi sebesar Rp.24 juta. Besarnya jumlah uang yang harus diganti juga berdasarkan perhitungan Ahwat secara pribadi. Karena Leha tidak punya uang untuk mengganti barang yang telah diambil, Ahwat akhirnya meminta ibu Leha bernama Sri datang sambil menunjukkan rekaman CCTV.

Ibu dua anak tersebut begitu terpukul setelah mengetahui kejadian itu. Bahkan dia nyaris pingsan di tempat ketika mendengar ucapan pemilik swalayan yang hendak melaporkan anaknya ke polisi jika tidak bisa mengganti kerugian. Namun, Sri juga tidak bisa berbuat banyak. Penghasilannya sebagai asisten rumah tangga sangat tidak memungkinkan membayar uang sebegitu banyak sesuai permintaan Ahwat, sang pemilik Swalayan Top 99.

Satu-satunya jalan, dia harus menghubungi Hayun, mantan suaminya (ayah kandung Leha) yang sedang bekerja di Malaysia. Hayun diminta segera datang menemui Ahwat dan menyelesaikan persoalan tersebut. Dia juga diminta menandatangani surat pernyataan yang telah disiapkan.

Berdasarkan surat pernyataan yang dibuat Ahwat dan ditanda tangani Leha dan ayahnya Hayun, tertera bahwa selama enam bulan bekerja (5 September s.d 21 Maret 2018), Leha dituding selalu mengambil barang-barang di Swalayan. Namun, tidak dijelaskan apa saja jenis barang yang diambil dan berapa kerugian per itemnya sesuai CCTV.

Kemudian dibuatlah kerugian per harinya sebesar Rp.200.000 x 30 (hari) = Rp.6.000.000. Dan, jumlah tersebut kemudian dikali lagi dengan 4 bulan bekerja saja. Berdasarkan perhitungan tersebut, maka jumlah uang kerugian yang harus dibayarkan Leha menjadi Rp.24 juta.

"Ketika ketemu itulah dia minta saya mengganti kerugiannya sebesar 24 juta rupiah. Kalau segitu saya tak sanggup bayar. Dan, waktu itu saya hanya ada uang empat juta hasil kerja di Malaysia dan uang itu langsung saya serahkan kepada dia. Tapi dia tetap mau 24 juta dan uang yang saya berikan hanya sebagai angsuran pertama ," kata Ayun lagi.

Meski telah mendapatkan ganti lebih besar dari kerugian yang ia derita, Ahwat tetap memaksakan kehendaknya. Ketakutan orang tua dari mantan karyawannya itu, seakan menjadi dasar bagi dia untuk terus menekan dengan cara meminta jaminan. Dengan jaminan itu, seolah ia yakin bahwa orang tua Leha akan membayarkan sisa uang yang ia pinta.

Rupanya benar, Hayun yang makin terpojok dan ketakutan akhirnya terpaksa menyerahkan satu persil surat tanahnya seluas 496 M persegi kepada Ahwat. Bahkan penyerahan surat tanah juga dilengkapi dengan surat jaminan yang walaupun secara hukum diragukan keabsahannya.

"Kami sadar anak kami salah, tapi kerugian dia yang hanya 200 ribu Rupiah sudah saya ganti dengan empat juta. Tapi dia tidak mau segitu dan malah minta ganti kerugian hingga 24 juta. Saya tidak punya uang lagi dan dia minta jaminan, makanya saya kasi surat tanah tersebut," sebut Hayun.

Meski anak gadisnya itu melanggar hukum, Hayun juga mengaku tidak bisa menyalahkannya. Selain faktor ekonomi, dia juga sadar bahwa Leha berbuat begitu juga sebagai akibat dari perceraiannya dengan ibu Leha. Demi anak, kini Hayun terpaksa kembali bekerja secara ilegal di Malaysia agar bisa melunasi angsuran kepada Ahwat.(nur/red)
BAGIKAN:
KOMENTAR